Penyakit- Penyakit Pada Kambing


1. PENYAKIT PINK EYE
     Pink Eye merupakan penyakit mata akut yang menular pada sapi, domba maupun kambing, biasanya bersifat epizootik dan ditandai dengan memerahnya conjunctiva dan kekeruhan mata.
Penyakit ini bisa menyerang kambing pada ketika cuaca kurang baik serta adanya penurunan daya tahan tubuh kambing, biasanya gampang sekali terjangkit penyakit mata.

     Penyakit ini tidak hingga menimbulkan kematian, akan tetapi sanggup mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi peternak, lantaran akan mengakibatkan kebutaan, penurunan berat tubuh dan biaya pengobatan yang mahal.

     Penyakitnya dinamakan radang selaput mata atau ping eye.
Mula-mula mata kambing terinfeksi oleh basil dan atau virus.
Infeksi itu bisa mengakibatkan mata kambing berair, kemerahan pada pecahan yang putih dan kelopaknya,lalu matanya infeksi dan usang kelamaan kornea matanya menjadi keruh atau tertutup lapisan putih.
Infeksi mata kambing menyerupai itu sering terjadi pada ternak yang mengalami perjalanan jauh.
Penyakit ini sanggup menular.
Ternak yang sakit mata sebaiknya dipisahkan dari ternak yang masih sehat.
Masa inkubasi penyakit ini yaitu 2-3 hari, tetapi sanggup juga hingga 3 minggu.
Pada proses inkubasi itu, mata kambing bisa berair dan lebih sering tertutup.
Bulu mata sering melekat, balasannya kambing akan sulit mengambil pakannya dengan baik.
Kondisi ini mengakibatkan penurunan bobot tubuh dengan cepat.

     Penularan pink eye sanggup terjadi melalui kontak dengan ternak terinfeksi, serangga (lalat), rumput dan percikan air yang tercemar.
Penyakit ini juga sering terjadi pada ekspresi dominan panas lantaran banyaknya debu dan meningkatnya populasi lalat
Musca autumnalis sebagai vektor. Perubahan cuaca yang mendadak, terlalu padatnya ternak dalam sangkar juga sanggup memicu terjadinya penyakit ini.

Etiologi
Pink Eye disebabkan oleh bakteri, virus, rikketsia maupun chlamydia, namun yang paling sering ditemukan yaitu akhir bakteri Maraxella bovis.

Cara Penularan
Mikrorganisme penyebab ditularkan lewat kontak antara ternak peka dengan ternak penderita atau oleh serangga yang bisa memindahkan mikroorganisme atau bisa juga lewat iritasi debu atau sumber-sumber lain yang sanggup mengakibatkan tabrakan atau luka mata.

Gejala Klinis
Mata berair, kemerahan pada pecahan mata yang putih dan kelopaknya, infeksi pada kelopak mata dan cenderung menjulingkan mata untuk menghindari sinar matahari.
Selanjutnya selaput bening mata/kornea menjadi keruh dan pembuluh darah tampak menyilanginya. Kadang-kadang terjadi borok atau lubang pada selaput bening mata.
Borok sanggup pecah dan mengakibatkan kebutaan. Mata akan sembuh dalam waktu 1–4 minggu, tergantung kepada penyebabnya dan keganasan penyakitnya.

Pengobatan
Suntikan antibiotik, menyerupai tetracyclin atau tylosin dan penggunaan salep mata sanggup membantu kesembuhan penyakit.
Menempatkan ternak pada tempat yang teduh atau menempelkan kain di mata sanggup mengurangi rasa sakit mata akhir silaunya matahari. Salep mata atau larutan yang mengandung antibiotika menyerupai chloramphenicol, oxytetracycline dan adonan penicilin-streptomycin.
Bisa juga dioleskan salep terramycin 0,1%.
Biasanya mata kambing akan sembuh dalam 1-2 minggu.

Pengobatan Traditional :
Untuk pengobatan sementara dan pertama yang dilakukan dengan daun sirih, garam dan air panas.

Sedangkan cara pembuatan obatnya cukup mengambil 3 lembar daun sirih, kemudian dituangkan air panas kedalam gelas yang di campur oleh garam.

Setelah air garam bercampur daun sirih tersebut agak masbodoh kita kompreskan ke pecahan mata kambing etawa yang terjangkit penyakit tersebut lakukan 1 kali sehari selama 2 hari .

Pencegahan
Memisahkan ternak yang sakit dari ternak-ternak sehat merupakan cara terbaik untuk pencegahan terhadap pinx eye. Tidak tersedia vaksin untuk penyakit ini.

2. CACINGAN
 Penyebab : 
     Bermacam-macam cacing terjadi lantaran sangkar yang kotor atau padang pengembalaan yang kotor.
Cacing yang banyak menimbulkan kerugian pada kambing yaitu cacing Haemonchus contortusi.
Cacing ini hidup sebagai benalu di pencernaan kambing menghisap sari makanan, cairan tubuh dan darah, serta mengeluarkan racun yang mengakibatkan kambing menjadi lemah dan lesu.
Biasanya anak kambing berumur 3-4 bulan yang terjangkit penyakit ini bisa menjadi kurus, bahkan mengalami kematian.

     Gejalanya yaitu kambing susah buang kotoran, kotoran yang keluar pada awalnya keras kemudian lunak dan akhirnya mencret, balasannya bulu bersahabat anus menjadi kotor oleh kotoran mencret.
Selain itu, perut kambing terlihat besar, bulunya bernafsu (tidak mengilap), dan terlihat lesu.

     Pencegahan penyakit cacingan sanggup dilakukan dengan cara menjaga kebersihan sangkar dan menggembalakan kambing pada siang hari biar tidak ada lagi telur cacing yang menempel di rumput.
Seluruh kambing diberi obat cacing, terutama bila ada kambing yang terjangkit cacingan.
Untuk obat cacing yang biasa digunakan antara lain cetarin concurat, wormex powder, atau pheno plus dosis 5-10 g/ekor,

Pengobatan Jamu :
Buah pinang/jambe bau tanah sebanyak 2 buah yang sudah dijemur hingga kering dan ditumbuk halus kemudian diaduk dengan gula jawa dan dibuat pellet/butiran.
Pemberian ini diberikan dengan cara dicekokkan.

Daun tembakau 5 lembar dilumatkan, kemudian dicampur air secukupnya dan disaring.
Air saringannya diminumkan pada ternak yang sakit Serbuk getah papaya muda dicampur air dengan perbandingan 1:5 hingga terbentuk suspensi.
Suspensi getah papaya ini diminumkan atau dicekokkan dengan memakai selang biar eksklusif masuk ke dalam perut.

Pemberian sebanyak 1,2 gr/Kg berat badan.
Tepung buah pinang dicampur dengan nasi hangat dikepal-kepal kemudian dipaksakan untuk dimakan ternak.
Ternak dianjurkan untuk dipuasakan terlebih dahulu.
Daun kelor yang bau tanah dibakar, kemudian debunya dicampur air dan diminumkan.
Pengobatan diulangi satu ahad kemudian.

Pencegahan :
- Kandang dibuat panggung dan bersih.
- Pengaritan rumput sehabis panas yaitu pada jam 12.00-15.00 atau pengembalaan ternak pada siang hari
   jam 10.00-15.00.
 
3. MENCRET/DIARE
Gejala Klinis :
Merupakan tanda-tanda penyakit pada perut.

Feses lembek hingga cair, kadang kala berdarah atau ada zat lain yang menyertai (sel usus, cacing, dll).

Penyebab :
 Mencret terjadi lantaran adanya gangguan pada jalan masuk pencernaan yang disebabkan oleh bakteri, kuliner rusak, serta lingkungan atau udara dingin.

Secara garis besar ada 3, yaitu : bakteri, benalu internal (cacing, protozoa), dan kesalahan makan atau cuaca (non infeksi).

Bakteri
Terjadi pada anak gres dilahirkan lantaran terlambat sumbangan kolostrum (> 8 jam) sehingga anak kurang bisa menyerap zat kebal dari induk, balasannya pertumbuhan basil E. coli lebih cepat dibanding basil Lactobacillus yang menguntungkan, mencret akhir infeksi E. Coli.

Parasit Internal
Menyerang anak di bawah 2 bulan lantaran sumbangan pakan yang mengandung benalu dan sangkar yang kotor.

Non Infeksi
Karena sangkar kotor, lembab dan sumbangan pakan dengan serat bernafsu tinggi atau perubahan pakan.

Pengobatan dan Pencegahan
- Antibiotika yang sempurna untuk akhir bakteri.
- Mengusahakan sumbangan kolostrum secepat mungkin (1/2 jam sehabis lahir).
- Selalu memberi obat cacing secara rutin, administrasi pakan.
- Berikan larutan oralit, larutkan 2 sendok makan garam + 2 sendok makan gula dalam 2,5 Liter air masbodoh yang sudah dimasak.

Tanda Klinis
Feses atau kotoran kambing berwarna hijau muda, hijau mengkilap, hijau kekuningan, hijau kemerahan atau hijau kehitaman.
Ternak tampak lesu, lemah dan pucat.

Pencegahan
Hindari hijauan kacang-kacangan atau daun muda secara berlebihan.
Jaga sanitasi kandang.
 
Pengobatan Jamu
1. Kambing sakit diberi larutan garam 10 gr dan gula pasir 10 gr dan air matang 2,5 Liter.
2. Ternak sakit diberi larutan oralit atau norit sebanyak 3 tablet.
3. Air kelapa muda diminumkan secukupnya.
4. Daun jambu biji 5 lembar dilumatkan bersama garam dapur dan diberikan pada kambing.
5. Ternak lebih banyak diberi hijauan daun jambu biji, daun bambu muda dan daun buni.

 4. BELATUNGAN (MYASIS)
 Penyebab
Luka kawasan yang berdarah diinfeksi oleh lalat sehingga lalat berkembang
biak (bertelur) dan menghasilkan larva belatung.

Tanda-tanda
- Adanya belatung yang bergerak-gerak pada pecahan yang luka
- Bila belatungan pada kaki/teracak maka ternak terlihat pincang.

Pengobatan
- Bersihkan luka dari belatung, kemudian obati dengan gerusan kamper/kapur barus atau tembakau.
- Luka dibungkus dengan kain/perban untuk melindungi dari terjadinya luka gres atau kotoran.
- Pada hari berikutnya luka dibersihkan, pengobatan diulang dan dibungkus kembali. Biasanya dua atau tiga kali pengobatan sudah sembuh.
- Bila belatung sudah terbasmi, sumbangan yodium tinctur sanggup digunakan untuk mempercepat pertumbuhan.
 
5. BLOAT, TYMPANI (KEMBUNG)
 Gejala Klinis
a. Sakit, membisu dan tidak mau makan, sulit bernafas.
b. Sisi perut kiri mengembung/menonjol, kalau ditepuk bersuara menyerupai drum.
c. Gerakan rumen berlangsung terus hingga pecahan dalam dari verbal dan kawasan sekitar mata menjadi biru, 
     kekurangan oksigen, mendekati kematian.

Penyebab
a. Ketidakmampuan menghilangkan gas yang dihasilkan rumen.
b. Gas, murni atau tercampur kuliner (lambung berbuih/frothy bloat).
c. Disebabkan oleh sumbangan buah polongan/legumes (kaliandra, cebreng) dan sedikit padi-padian (jagung, 
     kedelai).
d. Terlalu banyak konsentrat yang mengandung pati.
e. Setiap kuliner bisa mengakibatkan bloat kalau binatang tidak bisa menyerdawa gas lantaran menyumbat 
    kerongkongan/oesophagus oleh makanan, buih/benda asing.
f. Kematian, kemampuan pertukaran oksigen dalam darah menurun 

Pengobatan dan Pencegahan
- Paksakan binatang bangun atau berjalan
- Kambing dicekok 200 cc “Sprite/soda”, kemudian perut yang kembung sebelah kiri dibalur dengan bawang 
   merah halus dan sudah dicampur dengan minyak angin.
   Bila angin sudah keluar melalui anus, kedua kaki depan diangkat ke atas sambil sisi perut dijepit dengan 
   kaki kita.
   Mulut kambing harus selalu terbuka, dengan cara verbal kambing disumbat dengan kayu/paralon secara 
   melintang dan usahakan kambing tetap berdiri.
    Dengan cara ini semua timbunan gas dalam perut akan keluar.
 - Ikatkan kayu/tali dalam verbal biar mengunyah, merangsang pengeluaran liur dan membantu mengurangi 
    kembung
- Jika dalam kondisi kritis, masukkan selang karet lewat kerongkongan hingga lambung (berdiameter
   1-2 cm)
-  Tuangkan/pompakan 100-200 ml (1-1,5 cangkkir) minyak mineral/nabati melalui selang karet.
- Poloxalone 10 mg/Kg per oral sanggup mengurangi gas berbuih.
- Terakhir, jarum besar, trocar, cannula ditusukkan pada pecahan tubuh sebelah kiri.
   (hati-hati lantaran 60-80% binatang yang ditusuk mati lantaran infeksi)
 
6. ACIDOSIS (ASAM BERLEBIH DALAM DARAH)
 Gejala Klinis
 - Kembung perut (bloat), tidak mau makan, mencret berat, dehidrasi.
 - Sakit, gigi bekertak.
 - Gerakan rumen berhenti dan rumen terasa berair.
 - Hewan lemah, goyah dan tidak bisa berdiri.
 - Tidak diobati, mati dalam waktu 1 – 2 hari.

Penyebab 
- Kebanyakan makan pakan yang gampang dicerna denga kadar pati dan gula tinggi (padi-padian, sayuran, 
   buah-buahan dan hasil ikutannya).
- pH rumen menjadi asam (< 5).

Pengobatan dan Pencegahan
- Minyak nabati (sayur), adonan arang dengan sodium bicarbonat.
- Pencahar ringan, membersihkan rumen.
   Magnesium sulfat (garam epson 15-30 gr dicampur dalam 100-200 ml air), susu magnesia 45-60 ml.
- Jangan memberi kuliner buangan sayur-mayur dan buah-buahan yang basah.
- Rumput muda dan basah, dijemur atau dicacah.

7. SCABIES (KUDIS)
Penyakit scabies yaitu gangguan pada permukaan kulit akhir infestasi benalu eksternal (kutu).
Penyakit ini sering juga disebut kudisan lantaran mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit.
Scabies sering mewabah pada kambing akhir cekaman misalnya.
Wabah disuatu kelompok ternak sanggup juga terjadi apabila ada migrasi ternak dari luar yang telah terinfeksi skabies

Penyebab
- Parasit yang terdapat pada kotoran yang terjadi lantaran sangkar kotor dan ternak tidak pernah
   dimandikan.
- Pakan yang kurang baik jumlah maupun kualitas, kelembaban dan kepadatan sangkar yang tinggi

Tanda- tanda
- Kerak-kerak pada permukaan kulit.
- Ternak selalu menggesekan pecahan kulit yang terjangkit kudis.
- Kerontokan bulu, kulit menjadi tebal dan kaku.
- Bagian muka dan verbal yang berwarna kemerahan atau mengering (pada perkara berat).

Pengobatan
- Penanganan skabies paling efektif pada perkara yang berat yaitu dengan penyuntikan ivomex dibawah kulit
   (subcutan)

- Cukur bulu sekitar kawasan terserang, mandikan ternak dengan sabun hingga bersih, kemudian jemur 
   hingga kering.
   
- Setelah kering sanggup diobati dengan memakai :

1. Belerang dihaluskan, dicampur kunyit dan minyak kelapa, kemudian dipanaskan dan digosokkan pada
    kulit yang sakit.
2. Belerang dihaluskan dan dicampur dengan oli bekas dan digosok pada pecahan kulit yang sakit.
3. Kamper / kapur barus digerus, dicampur minyak kelapa dan dioleskan pada pecahan kulit yang sakit.

Pencegahan
- Ternak yang berpenyakit kudis dilarang bercampur dengan ternak yang sehat.
- Ternak yang gres dibeli harus bebas dari penyakit kudis
- Mandikan ternak dua ahad sekali.
- Bersihkan sangkar seminggu sekali.

8. ORF/ ECTHYMA CONTAGIOSA
ETIOLOGI
Orf atau keropeng/puru/dakangan yaitu penyakit viral yang sangat infeksius pada domba dan kambing, disebabkan oleh virus golongan cacar, ditandai dengan terbentuknya papula, vesicula, pustula dan keropeng pada kawasan moncong, bibir, lubang hidung, kelopak mata, putting susu, ambing, tungkai, perianal, dan selaput lendir di rongga mulut

Penyakit ini tersebar diseluruh dunia. Umumnya orf menyerang domba dan kambing muda sehabis disapih, tetapi kadang kala juga menyerang binatang dewasa.
Orf juga sanggup menular ke manusia, memperlihatkan lesi kulit yang berbentuk bundar disertai gatal.

Orf disebabkan oleh virus Parapox, famili Poxviridae, genus Parapoxvirus. Virus orf berukuran relatif besar 300 – 450 nm x 170 – 260 nm, berbentuk avoid.
Apabila diperiksa di bawah mikroskop elektron transmisi dengan pewarnaan negatif memakai phosphotungtic acid (PTA), maka akan terlihat garis-garis menyerupai permukaan buah nenas.
Mengingat morfologi dibawah mikroskop elektron yang cukup menciri, investigasi dengan alat ini mempunyai nilai diagnostik yang tinggi.

Dibanding dengan virus pada umumnya, virus orf amat tahan terhadap efek suhu lingkungan sehingga tetap infektif dalam waktu relatif usang diluar tubuh hewan.
Virus ini sangat tahan terhadap kekeringan, sanggup tinggal dalam suatu sangkar pada suhu ruangan selama 15 tahun.

Penderita yang sembuh dari penyakit ini mempunyai kekebalan yang disebabkan oleh terbentuknya antibodi yang bersifat protektif.
Antibodi sanggup dikenali dengan uji Agar Gel Immuno Diffusion (AGID-T), CFT, dan uji serologik lainnya.

Patogenesis
Masa inkubasi dari penyakit ini berlangsung selama 2-3 hari.
Setelah virus memasuki mukosa kulit atau mulut, kemudian mengadakan proliferasi, dan segera mengakibatkan timbulnya lesi primer papulae dan vesikulae.
Vesikulae segera berubah jadi pustulae sehabis terjadi reruntuhan jaringan dan sel-sel darah, hingga rongga diisi nanah.
Vesikulae dan pustulae yang pecah diikuti dengan pembentukan keropeng berwarna abu-abu, berupa masa yang agak berpengaruh terbentuk sekitar 11 hari kemudian.

Gejala
Lesi kulit terbentuk disekitar verbal dan hidung berupa papula, vesikulae, pustulae, radang basah, disertai bentukan keropeng ynag berukuran bervariasi hingga dengan 5 mm, dan menyembul dari permukaan kulit setinggi 2-4 mm.
Bagian kulit yang menderita kalau tertekan terasa sakit, hal ini mengakibatkan menurunnya nafsu makan.
Kulit jadi menebal lantaran adanya granulasi jaringan.
Lesi juga sanggup ditemukan pada kawasan pipi.
Oedem yang terjadi juga mengakibatkan regangan kulit, hingga kadang terbentuk luka iris (fisurae).

Kesembuhan pada penyakit yang tidak berat terjadi dalam waktu lebih kurang 3 minggu, ditandai dengan hilangnya keropeng dari kawasan sekitar mulut.

Pada insan yang tertular biasanya ditemukan pada tangan, jari dan bahu. Hanya kadang kala ditemukan pada muka dan pecahan lain dari tubuh. Lesi mula-mula berbentuk mukula atau papula berwarna merah pada tempat kontak.
Beberapa hari kemudian lesi tersebut berkembang menjadi vesikel di beberapa tempat dikelilingi oleh peradangan dan pembengkakan pada kulit.
Pada 2 ahad berikutnya permukaan lesi menjadi berwarna putih dan basah, kemudian membentuk kerak-kerak dan pada pecahan dasar terbentuk ulkus.
Ulkus akan sembuh dalam waktu 4-6 ahad dan meninggalkan sedikit atau tanpa jaringan parut sanggup pula ditemukan sedikit pembengkakan kelenjar limfe regional.

Pengendalian Penyakit
Penanggulangan orf biasanya dengan pencegahan melalui vaksinasi terutama pada kawasan endemis dan dilaksanakan secara regular.
Pemberian salep pelunak sanggup membantu biar kambing tetap sanggup makan dan minum.
Pakan yang bergizi tinggi sangat diharapkan untuk mempercepat terjadinya kesembuhan.
Apabila keropeng terkelupas menjadi luka gres maka perlu diolesi dengan obat lokal, menyerupai salep penisilin yang dicampur dengan minyak kelapa.
Pemberian antibiotika secara suntik dibutuhkan kalau suhu tubuh ternak menjadi tinggi.
Tindakan ini juga ditujukan untuk menghilangkan infeksi sekunder oleh bakteri.
Ternak-ternak di kawasan tertular seharusnya divaksinasi tetapi vaksinasi ternak di kawasan bebas tidak dianjurkan.
Ternak yang akan didatangkan ke kawasan belum tertular harus telah divaksinasi orf.
Pengobatan hanya ditujukan untuk mencegah infeksi sekunder dengan memperlihatkan salep antibiotika menyerupai eritromisin dan oksitetrasiklin.

Pada awal wabah orf penderita diupayakan diisolasi, dan yang sehat divaksin.
Aplikasi vaksin dilakukan secara skarifikasi pada pecahan tubuh yang mempunyai sedikit bulu, menyerupai medial paha atau medial daun telinga. Di kawasan yang sering timbul wabah, vaksinasi anak domba dan kambing pada umur 6-8 mingga dianjurkan. Vaksin dibuat dengan jalan menciptakan suspensi keropeng dalam glycerol-saline, dan dioleskan atau diskarifikasi pada kulit paha sebelah dalam.
Dapat juga vaksin digosokkan kedalam indera pendengaran dengan sepotong es yang dicelupkan kedalam vaksin.

Biasanya vaksinasi efektif untuk sedikitnya 2 tahun.
Dalam 1 ahad pasca vaksinasi harus terjadi reaksi lokal ditempat yang divaksin.
Bila tidak ada reaksi mungkin hal tersebut disebabkan lantaran vaksin yang digunakan tidak cukup paten.
Vaksin komersial dipersipkan melalui pelemahan virus dalam biakan sel.

Masa inkubasi berlangsung 2-3 hari. Virus memasuki mukosa kulit atau mulut, kemudian mengadakan proliverasi dan mengakibatkan timbulnya lesi primer papulae dan vesikulae.
Vesikulae segera berubah jadi pustulae sehabis terjadi reruntuhan jaringan dan sel-sel darah, sehingga rongga diisi nanah.
Vesikulae dan pustula yang pecah diikuti denagn pembentukan keropeng berwarna abu-abu. Bagian kulit yang menderita kalau ditekan terasa sakit, hal ini mengakibatkan menurunnya nafsu makan.
Kulit jadi menebal lantaran adanya granulasi jaringan.
Oedema yang terjadi juga mengakibatkan regangan kulit, hingga kadang terbentuk luka iris (fisura)

Pengobatan khusus terhadap penyakit orf belum ada.
Tetapi untuk tindakan pencegahan infeksi sekunder sanggup dilakukan :
- Bersihkan dengan alkohol.
- Keropeng dibersihkan hingga bersih.
- Beri Iodium Tincture dan metylen Blue.
- Injeksi dengan antibiotic.

9. PNEUMONIA
 Penyakit pneumonia biasanya banyak menyerang binatang ternak kambing domba pada pergantian musim.
Agen penyebab pneumonia majemuk menyerupai bakteri, virus dan benalu (Cacing Paru-Paru).
Organisme penyebab pneumonia terdapat disekitar lingkungan hidup domba kambing yang lembab, kotor dan berventilasi kurang baik.

Penyakit ini ditandai dengan tanda-tanda demam, keluar ingus dari hidung, batuk-batuk dan gangguan pernafasan (Nafas Dangkal atau Berat).
Pada keadaan parah di mana binatang tidak bergerak lantaran paru-paru dalam keadaan sakit.
Pengendalian penyakit ini pastinya sanggup dihindari dengan menjaga kondisi sangkar biar tidak lembap dan kotor.
Kemudian sebagai pengobatan maka sanggup diberikan antibiotika.
 
Pneumonia yang disebabkan oleh virus pada binatang biasanya bersifat akut.
Pada kultur paru-paru binatang yang sudah mati disebabkan pneumonia sering dijumpai adanya basil Corynobacterium pyogenes, hemolytic staphylococci dan Pseudomonas aeruginosa.
Pada awalnya radang paru-paru (pneumonia) didahului tanda-tanda hiperemi pulmonum, diikuti dyspnoe, frekuensi nafas 40-80 kali permenit, tipe nafas bersifat abdominal, napasnya mula-mula dangkal kemudian dalam, batuk, sehabis berlangsung beberapa hari muncul leleran pada hidung, pulsus 60-90 kali per menit, demam (suhu 42ºC) kenaikan suhu tubuh ini sejalan dengan reaksi tubuh dalm memobilisasi sel-sel darah putih dan berlangsungnya menyerupai antigen-antibodi.
Pada inspeksi terkadang tercium amis abnprmal dari pernapasan penderita. Bau busuk (halitosis, foxtor ex ero) sanggup berasal dari runtuhan sel atau dari produk basil penyebab pneumonia.
Bau busuk selalu ditemukan pada radang paru-paru yang disertai ganggren.

Pada auskultasi kawasan paru-paru akan terdengar banyak sekali bunyi abnormal.
Terdengar bunyi bronchial (rhonci basah) yang seharusnya bunyi vesicular disebabkan alveoli terisi cairan radang. Pada investigasi perkusi pada kawasan paru-paru tidak ditemukan adanya perubahan pada batas-batas kawasan perkusi.
Suara resonansi yang dihasilkan bervariasi mulai dari agak pekak pada kawasan yang mengalami hiperemi hingga pekak total pada kawasan yang mengalami hepatisasi.
Pemeriksaan makroskopis pada paru-paru tampak perubahan warna mulai yang dari kemerahan hingga menjadi abu-abu dan kuning bahkan terjadi hepatisasi merah, konsistensinya berkembang menjadi menyerupai hati yang lentur bahkan mengalami kerapuhan.
Pada pengirisan paru-paru ditemukan adanya eksudat mulai dari serous hingga mukopurulen, jaringan parenkim tampakmengalami kongesti dan hepatisasi.
Pada uji apung akan melayang atau tenggelam, dan ditemukan inklusi bodi pada pneumonia yang disebabkan virus.

Penyakit Pneumonia
· Penyakit ini berkaitan dengan sistem tatalaksana yang buruk.

· Penyebab
Kandang yang lembab, ventilasi kurang mendukung pertukaran udara, polusi di lingkungan kandang, dan banyak angin ribut yang masuk ke dalam kandang.

· Usia
Semua usia kambing

· Gejala
Nafsu makan berkurang, ternak terlihat kurus dan lemah, batuk-batuk dan sulit bernafas, demam dengan suhu tubuh yang meninggi.

· Pencegahan
Melaksanakan tatalaksana sangkar dengan baik, hindarkan kambing terkena angin keras secara eksklusif dalam kandang.

· Pengobatan
Dapat diberikan obat-obatan Antibiotika lewat air minum.

10.MASTITIS
Penyakit mastitis biasanya disebabkan oleh infeksi baktei akhir sanitasi/kebersihan yang kurang baik.
Penyakit ini ditandai oleh pembengkakan ambing yang biasanya disebabkan oleh kontaminasi bakteri.

Gejala terjangkit mastitis yaitu demam/temperature tubuh meningkat, ternak kelihatan kesakitan bila ambing disentuh dan putting membengkak. Ambing yang terinfeksi terasa masbodoh dan berubah warna dari warna normal pink menjadi kemerahan atau menghitam.
Warna air susu kemerahan/kuning/kehijauan, sangat kental.

Pengobatan sanggup dilakukan dengan suntikan antibiotik pada ambing (intramammary).
Sebelum disuntik putting diperas dengan lembut untuk mengeluarkan air susu, kemudian disuntik dengan antibiotik pada putting.
Antibiotik untuk mengobati mastitis beredar dipasar, salah satunya yaitu terrexin.
Tergantung antibiotic yang digunakan, penyuntikan dilakukan setiap hari selama 3-4 hari.
Untuk mengurangi rasa sakit cuci ambing dengan air hangat 2-3 x dalam sehari.
Penyakit mastitis sanggup menyebar sehingga perlu segera ditangani.
Pencegahan mastitis dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang.

11. KERACUNAN TANAMAN
 Penyebab
- Ternak memakan rumput-rumputan atau daun-daunan yang mengandung zat racun.

Tanda-tanda
 - Mati mendadak, verbal berbusa, kebiruan pada selaput lendir, pengelupasan kulit/eksim atau terjadi 
    pendarahan.

Pengobatan
- Cekok ternak dengan air kelapa muda.
 
Pencegahan
- Tidak memperlihatkan tumbuhan beracun atau menggembalakan ternak di kawasan yang banyak tumbuh tumbuhan yang mengandung racun.

Keracunan disebabkan  kambing mengkonsumsi pakan hijauan yang mengandung racun.
Gejalanya, kambing mengalami kejang-kejang, verbal berbusa, selaput lendir mata berwarna kebiru-biruan, dan kotoran bercampur darah.
Pada kondisi yang parah bisa mengakibatkan maut yang mendadak.

Pada perkara keracunan yang diketahui secara dini, sumbangan tablet norit atau air kelapa muda bisa menyelamatkan kambing dari kematian.
Namun kalau sudah akut, kambing sulit tertolong.
Pencegahan dilakukan dengan cara tidak memperlihatkan hijauan yang mengandung racun, menyerupai daun singkong segar, dan hijauan yang masih muda.
Selain itu, harap diperhatikan tempat dimana kambing digembalakan, jangan hingga ada tumbuhan beracun yang bisa tergoda oleh kambing.
Daun singkong dan hijauan lain sanggup diberikan kalau dilakukan pendiaman terlebih dahulu selama 3-4 jam.


Semoga bermanfaat...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tikus Di Dalam Mobil

Hal Harus Dipersiapkan Pada Kurun Sapi Hamil Dan Akan Melahirkan

4+ Cara Mengatasi Pembengkakan Pakan Pada Ayam Bloiler