Cara Budidaya Tanaman Jahe Zingiber Officinale

     Jahe yaitu tumbuhan rempah yang digunakan sebagai bumbu dapur dan mempunyai khasiat sebagai obat.
Jahe juga termasuk dari suku Zingiberaceae atau temu-temuan dan dikenal dengan nama latin Zingiber officinale. Nama ilmiah jahe diberikan oleh William Roxburgh berasal dari kata Yunani yang disebut zingiberi dan dari bahasa Sanskerta disebut singaberi.
Rimpang jahe berbentuk menyerupai jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah rimpang dan rasanya cenderung pedas yang disebabkan oleh adanya kandungan senyawa keton berjulukan zingeron.

     Asal undangan Jahe diduga berasal dari India dan dugaan lain menyimpulkan dari Negeri Republik Rakyat Tiongkok Selatan.
Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian pada zaman kolonialisme, jahe menjadi komoditas terkenal di Eropa, lantaran jahe sanggup memperlihatkan rasa hangat dan pedas pada makanan.
Jahe diketahui mempunyai beberapa jenis yaitu jahe gajah atau kahe badak, jahe emprit dan jahe merah. Keunggulan dari jahe gajah yaitu dari segi rimpang yang cenderung berwarna kuning muda, serat yang halus, lembut dan rimpang besar. Sedangkan jahe merah cenderung sebaliknya berwarna merah, ukuran rimpang kecil dan keunggulan rasa lebih pedas.
Berikut yaitu pembagian terstruktur mengenai ilmiahnya;

     Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber officinale

    Indonesia yaitu sebuah negara yang memanfaatkan jahe sebagai materi baku minuman, bumbu kuliner dan obat-obatan.
Selain itu di negara ini mempunyai sebutan lain yaitu diantara yaitu halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa & Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dan kata umum yang digunakan yaitu Jahe.

   Deskripsi umum
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm hingga 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk pengecap daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau lingkaran telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk lingkaran telur terbalik, lingkaran pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2.

   Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis menurut ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe warak : Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bisa dikonsumsi baik ketika berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit : Ruasnya kecil, agak rata hingga agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen sesudah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok utk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
Jahe merah : Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. sama menyerupai jahe kecil, jahe merah selalu dipanen sesudah bau tanah dan juga mempunyai kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.

   Manfaat Tanaman
Rimpang jahe sanggup digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan sensasi rasa pada kuliner menyerupai roti, kue, biskuit, kembang gula dan banyak sekali aneka ragam minuman. Jahe juga sanggup digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibentuk acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup.
Dewasa ini para petani cabai memakai jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang mempunyai kegunaan sebagai materi pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, adonan sosis dan lain-lain.
Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain yaitu sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

   Sentra tanaman
Jahe terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan disekitar pekarangan. Pada ketika ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

  Syarat pertumbuhan
Iklim;
Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
Pada umur 2,5 hingga 7 bulan atau lebih, tumbuhan jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
Suhu udara optimum untuk budidaya tumbuhan jahe antara 20-35°C.

Media Tanam
Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus.
Tekstur tanah yang baik yaitu lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
Tanaman jahe sanggup tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah yaitu 6,8-7,0.
Ketinggian Tempat
Jahe tumbuh baik di kawasan tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl..
Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.

  Pedoman budidaya
Pembibitan;
Persyaratan Bibit Jahe : Bibit berkualitas yaitu bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yang tinggi) dan mutu fisik. yang dimaksud dengan mutu fisik yaitu bibit yang bebas hama dan penyakit. Oleh lantaran itu kriteria yang harus dipenuhi antara lain:
Bahan bibit diambil pribadi dari kebun (bukan dari pasar).
Dipilih materi bibit dari tumbuhan yang sudah bau tanah (berumur 9-10 bulan).
Dipilih pula dari tumbuhan yg sehat & kulit rimpang tidak terluka atau lecet.
Teknik Penyemaian Bibit : untuk pertumbuhan tumbuhan yang serentak atau seragam, bibit jangan pribadi ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit sanggup dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.
Penyemaian pada peti kayu : Rimpang jahe yang gres dipanen dijemur sementara (tidak hingga kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan mempunyai 3-5 mata tunas dan dijemur ulang ½-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, kemudian dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada cuilan dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi bubuk gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yg paling atas yaitu bubuk gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 ahad lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
Penyemaian pada bedengan : Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibentuk bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami kemudian ditutup jerami, & di atasnya diberi rimpang kemudian diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan cuilan atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan sanggup dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih semoga tidak terbawa bibit berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan mempunyai 3-5 mata tunas & beratnya 40-60 gram.
Penyiapan Bibit Jahe : Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

   Media Tanam
Persiapan Lahan : untuk mendapat hasil panen yang optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yang dibutuhkan tumbuhan jahe. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tumbuhan jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapat kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tumbuhan pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 ahad semoga gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka sanggup dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 ahad sebelum tanam dan sekaligus diberikan pupuk sangkar dengan takaran 1.500-2.500 kg.
Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya buruk dan sekaligus utk encegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya diadaptasi dengan kondisi lahan.
Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) dan calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini sanggup menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diharapkan tumbuhan untuk mengeraskan cuilan tumbuhan yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.
Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.
Teknik Penanaman Jahe.
Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu kawasan tertentu memang dinilai cukup rasional, lantaran bisa memperlihatkan produksi dan produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tumbuhan jahe secara monokultur kurang sanggup diterima lantaran selalu mengakibatkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tumbuhan lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
Meningkatkan produktivitas lahan.
Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akhir rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Praktek di lapangan, ada jahe yang di tumpangsarikan dengan sayur-sayuran, menyerupai ketimun, bawang merah, cabai rawit, buncis dan lain-lain. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, menyerupai jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.
Pembutan Lubang Tanam : untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, lantaran kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit.
Cara Penanaman : Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan.
Perioda Tanam : Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal animo hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan lantaran tumbuhan muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya.

  Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman (penyisipan) : Sekitar 2-3 ahad sesudah tanam, hendaknya diadakan untuk melihat rimpang yang mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman semoga pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tumbuhan lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yg baik serta pemeliharaan yang benar.
Penyiangan : Penyiangan pertama dilakukan ketika tumbuhan jahe berumur 2-4 ahad kemudian dilanjutkan 3-6 ahad sekali. Tergantung pada kondisi tumbuhan pengganggu yg tumbuh.
Namun sesudah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, alasannya yaitu pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.
Pembubunan : Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air sanggup berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang kala muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tumbuhan jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya sanggup diperdalam dan diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air.
Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tumbuhan jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tumbuhan jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah dan banyaknya hujan.
Pemupukan :
Pemupukan Organik : Pada pertanian organik yang tidak memakai materi kimia termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan memakai pupuk kompos organik atau pupuk sangkar dilakukan lebih sering, dibanding kalau kita memakai pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada ketika pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yg ditebar dan dicampur tanah olahan. untuk menghemat pemakaian pupuk kompos sanggup juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan dan 8 – 10 bulan. Adapun takaran pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan sesudah acara penyiangan dan bersamaan dengan acara pembubunan.
Pemupukan Konvensional : Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tumbuhan jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada ketika tumbuhan berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan yaitu pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk sangkar dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; & ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tumbuhan yg berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha) dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada ketika tumbuhan berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tumbuhan atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.
Pengairan dan Penyiraman : Tanaman Jahe tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal animo hujan sekitar bulan September;
Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari ketika penyimpanan bibit yang untuk disemai dan pada ketika pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan jahe.

   Hama dan penyakit
Hama Tanaman;
Hama yang dijumpai pada tumbuhan jahe adalah:
Kepik, menyerang daun tumbuhan hingga berlubang-lubang.
Ulat penggesek akar, menyerang akar tumbuhan jahe hingga mengakibatkan tumbuhan jahe menjadi kering dan mati.
Kumbang.

Penyakit Tanaman;
Penyakit layu bakeri
Gejala; Mula-mula helaian daun cuilan bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan balasannya tumbuhan mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu hingga kecoklatan. Penyakit ini menyerang tumbuhan jahe pada umur 3-4 bulan dan yang paling besar lengan berkuasa yaitu faktor suhu udara yang dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab.
Pengendalian:
jaminan kesehatan bibit jahe;
karantina tumbuhan jahe yang terkena penyakit;
pengendalian dengan pengolahan tanah yang baik;
pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
Penyakit busuk rimpang
Penyakit ini sanggup masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang balasannya mengakibatkan rimpang menjadi busuk.
Gejala: Daun cuilan bawah yang bermetamorfosis kuning kemudian layu dan balasannya tumbuhan mati.
Pengendalian:.
penggunaan bibit yang sehat;
penerapan rujukan tanam yang baik;
penggunaan fungisida.
Penyakit bercak daun
Penyakit ini sanggup menular dengan pinjaman angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka.
Gejala: Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-bercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terjangkit bisa mati.
Pengendalian: baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas.

   Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak yaitu gulma kebun antara lain yaitu rumput teki, alang-alang, ageratum dan gulma berdaun lebar lainnya.

Pengendalian hama/penyakit secara organik;
Dalam pertanian organik yang tidak memakai bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan, biasanya dilakukan secara terpadu yaitu semenjak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut, metode ini  dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya yaitu sbb:
Mengusahakan pertumbuhan tumbuhan yang sehat yaitu menentukan hibrida yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari semenjak awal pertanaman.
Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik, contohnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tumbuhan yang saling menunjang serta rotasi tumbuhan pada setiap masa tanamnya untuk tetapkan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.
Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak mengakibatkan residu toksik baik pada materi tumbuhan yang dipanen maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan materi ini hanya dalam keadaan darurat menurut aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tumbuhan yang sanggup dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:.
Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil contohnya Aphids.
Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang sanggup digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf sentra yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga menyerupai lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang dan lalat buah.
Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dansemprotan.
Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap menyerupai wereng dan serangga pengunyah menyerupai hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.
Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang sanggup digunakan sebagai insektisida dan larvasida.
Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan serta hama gudang Callosobrocus.

   Masa panen
Ciri dan Umur Panen Jahe: Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tumbuhan jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan hingga tua. Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen sesudah cukup tua. Umur tumbuhan jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tumbuhan jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
Cara Panen : Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati memakai alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan hingga rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.
Periode Panen. : Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum animo hujan yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya cuilan atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada animo kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada animo kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada animo hujan mengakibatkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya materi aktif lantaran lebih banyak kadar airnya.
Perkiraan Hasil Panen : Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.

  Pasca panen
Penyortiran Basah dan Pencucian : Sortasi pada materi segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tumbuhan dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah materi hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, kalau perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan kalau masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pembersihan yang terlalu usang semoga kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari lantaran dikhawatirkan telah terkontaminasi kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pembersihan selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang semoga sisa air cucian yang tertinggal sanggup dipisahkan, sesudah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
Perajangan : Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi materi yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan sanggup dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
Pengeringan : Pengeringan sanggup dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari atau sesudah kadar airnya dibawah 8%. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali semoga pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam panggangan dilakukan pada suhu 50 ° C - 60 ° C. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray panggangan dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan
Penyortiran Kering. : Selanjutnya lakukan sortasi kering pada materi yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda ajaib menyerupai kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).
Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang higienis dan kedap udara (belum pernah digunakan sebelumnya). Berikan label yang terperinci pada wadah tersebut dan menjelaskan nama bahan, cuilan dari tumbuhan materi itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat higienis dan metode penyimpanannya.
Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga semoga tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 ° C dan gudang harus mempunyai ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi materi lain, lantaran menurunkan kualitas materi yang bersangkutan, mempunyai penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung) serta higienis dan terbebas dari hama gudang.

   Penjelasan khasiat
1. Menurunkan Berat Badan
Jahe bersifat panas dan menghangatkan, kalau di dalam badan jahe akan membantu melebarkan pembuluh darah menjadi panas tubuh. Selain itu, jahe gajah mengandung sedikit kalori yang tidak akan mengakibatkan kegemukan. Jika dikonsumsi secara teratur bisa melancarkan metabolisme dalam tubuh. Jika metabolisme lancar, maka proses pembakaran kalori bisa dimaksimalkan sehingga badan menjadi ramping.

2. Menjaga Kesehatan Jantung
Apabila badan menyimpan kolesterol yang sangat banyak dan minyak yang terbuat dari susunan lemak hewani dan nabati yang bisa mengakibatkan risiko terjangkit penyakit jantung, maka manfaat dari jahe gajah akan membantu menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol yang berlebih dalam tubuh. sehingga jantung akan tetap terjaga kesehatannya.

3. Mengatasi Mabuk Perjalanan
Sebelum Anda memulai untuk berkendaraan jauh, alangkah baiknya meminum air jahe terlebih dahulu untuk mencegah mabuk di perjalanan. Karena jahe bersifat anti mual dan bisa memperlihatkan sensasi rileks. Sehingga badan akan terasa nyaman dan lebih hening selama berada dikendaraan.

4. Mengatasi Gangguan Pencernaan
Masalah pada pencernaan menyerupai kram dan nyeri yang timbul menjelang haid bisa diatasi dengan meminum air jahe secara rutin. Selain itu, jahe juga bisa membantu pemecahan protein pada kuliner yang di konsumsi dan membantu proses absorpsi nutrisi. Kandungan antioksidan yang tinggi juga bisa menjaga susukan pencernaan semoga terhindar dari serangan penyakit.

5. Mencegah Mual Pada Ibu Hamil
Dalam kondisi hamil muda biasanya akan mengakibatkan rasa mual, biasanya akan berlanjut hingga muntah. Jika dibiarkan akan mengurangi nutrisi dan gizi yang seharusnya diserap oleh janin dalam kandungan akan berkurang. Oleh alasannya yaitu itu, minum kopi yang dicampur dengan jahe atau wedang jahe bisa menghilangkan rasa mual ketika berdiri tidur.

6. Mengobati Sakit Kepala
Bekerja seharian bisa memicu stress dan terjangkit penyakit, yang paling ringan biasanya sakit kepala. Untuk mengatasinya, Anda bisa menikmati wedang jahe yang ditemani roti bakar. Karena jahe bersifat menenangkan dan merilekskan pikiran yang sedang stres.

7. Mengobati Alergi
Jahe mempunyai sifat anti alergi, lantaran di dalamnya mengandung senyawa yang sangat efektif dalam mengurangi rasa gatal yang diakibatkan oleh alergi. Selain itu juga bisa mengobati rasa gatal yang terlanjur muncul.

8. Mengobati Rematik
Untuk mengobati rematik Anda bisa memakai rimpang jahe yang dibakar. Selanjutnya di tumbuk hingga halus dan balurkan pada cuilan badan yang sakit.

9. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem imun atau imunitas dalam badan harus ditingkatkan semoga kebal terhadap serangan penyakit. Jika badan mempunyai sistem imun yang kuat, maka basil dan virus yang akan menyerang badan akan di halangi. Anda bisa meminum wedang jahe setiap pagi atau malam hari, selain untuk menghangatkan badan juga akan terhindar dari serangan penyakit.

10. Mengobati Kanker Usus
Hasil riset di Amerika memperlihatkan kalau mengonsumsi kuliner atau minuman dari materi jahe bisa mencegah penyakit kanker usus besar.

10 Manfaat dan Khasiat  Untuk Kesehatan Lainnya:
Mengobati radang sendi.
Mengontrol gula darah.
Melancarkan sistem peredaran darah.
Menangkal radikal bebas.
Menurunkan demam dan panas.
Mengobati batuk kering dan berdahak.
Mengatasi jerawat, digunakan sebagai masker.
Mengobati luka yang di akibatkan oleh gigitan ular.
Meredakan nyeri otot.
Mengobati sakit gigi

   Demikian sedikit informasi wacana klarifikasi singkat dan budidaya Zingiber officinale. Semoga bermanfaat dan sukses. Sekian dan terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tikus Di Dalam Mobil

Hal Harus Dipersiapkan Pada Kurun Sapi Hamil Dan Akan Melahirkan

4+ Cara Mengatasi Pembengkakan Pakan Pada Ayam Bloiler